Sabtu, 19 Februari 2011

Timnas Sepakbola yang Jadi Komoditas Politik


Tidak tanggung-tanggung, Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie secara khusus menjamu timnas sepakbola di kediaman pribadinya. Tak lupa segocek hadiah dilimpahkan kepada para pemain dan juga PSSI.
Adalah Nurdin Halid, Ketua Umum PSSI sekaligus tangan kanan Aburizal Bakrie di Partai Golkar untuk penggalangan kawasan timur Indonesia, yang memboyong pasukan sepakbola bertandang ke kediaman Ketua Umum. Kunjungan yang terkesan mendadak itu menjadi ajang Aburizal untuk meraih simpati, tidak hanya bagi kalangan pencandu sepakbola saja namun juga masyarakat luas. Menjelang 2014, Aburizal Bakrie memang harus berjuang keras meraih simpati masyarakat luas.
Nurdin Halid yang terus menerus dicuekin Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada saat digelar pertandingan sepakbola terkesan meradang sekaligus menantang. Betapa tidak, Presiden SBY harus mendatangi tim nasional sepakbola di tempat latihan hanya sekedar untuk bersapa ria. Sedangkan Aburizal Bakrie cukup berleha-leha di rumah mewahnya menunggu Nurdin membawa rombongan tim nasional sepakbola.
Selain itu, menjelang laga final antara Indonesia dan Malaysia, Ketua Umum Partai Demokrat pun menyatakan memberikan tiket gratis sebanyak 1000 tiket kepada para Tenaga Kerja Indonesia yang bekerja di Malaysia. Tiket gratis itu disalurkan lewat DPLN (Dewan Pengurus Luar Negeri) Partai Demokrat yang ada  di Malyasia. Agaknya jumlah TKI yang bekerja di Malaysia mencapai lebih dari 2 juta orang cukup menggiurkan bagi Partai Demokrat meraih simpati.
Bahkan PKS pun tidak kalah ketinggalan memanfaatkan momentum eforia tim nasional sepakbola yang melanda masyarakat luas. DPP PKS akan mengerahkan supporter untuk nonton bareng di Bukit Jalil Malaysia dan Gelora Bung Karno. Tidak hanya mengerah supporter, DPP PKS pun memberikan instruksi langsung kepada seluruh DPW mau pun Dewan Pengurus Daerah (DPD) di seluruh Indonesia guna  menggelar acara nonton bareng bersama masyakarat setempat. PKS yang biasanya menggelar pengajian untuk mendulang massa, maka sekarang membuat terobosan, mendulang massa dengan menggelar nonton bola bersama.
Pelatih timnas sepakbola Alfred Riedl yang telah menerapkan aturan ketat bagi para pemain untuk tidak berkomentar di media massa tampaknya harus mengalah dengan ulah para politisi. Nurdin Halid yang mengajak rombongan timnas sepakbola datang ke rumah Aburizal Bakrie nampaknya tidak bisa ditolak oleh sang pelatih. Begitu juga dengan kedatangan Presiden SBY yang berkunjung pada saat timnas sepakbola sedang melakukan latihan pun tidak bisa dihindari. Namun sang pelatih tampaknya bisa membaca ulah para politisi. Pada saat timnas sepakbola berkunjung ke rumah mewah Aburizal, sang pelatih tak nampak batang hidungnya. Begitu pula dengan kedatanagn Presiden SBY, sang pelatih tak mau memberikan komentar.
Hari ini timnas sepakbola bisa bernafas lega dari hiruk pikuk politik dalam negeri karena sudah terbang ke Malaysia untuk persiapan pertandingan tanggal 26 Desember 2010 mendatang. Semoga timnas sepakbola dapat berlatih dengan baik tanpa ada gangguan dari para politisi tanah air. Hal itu mengingat sejumnlah petinggi partai politik ternyata sudah bersiap untuk menonton final leg pertama di Malaysia. Bukannya tidak mungkin, para petinggi partai politik nantinya akan minta bertemu untuk sekedar beramah-tamah  dengan timnas sepakbola. Bagi para politisi bertemu dan berbincang dengan para pemain timnas sepakbola, apalagi yang akan berjuang di Malaysia, memberika  kredit politik tersendiri untuk mendulang simpati masyarakat luas. Namun bagi para pemain timnas, pertemuan atau ramah-tamah dengan para politisi, selain mengurangi porsi latihan juga hanya menimbulkan kerepotan tersendiri. Bayangkan saja, para pemain timnas yang capek selesai latihan masih harus berbasa-basi dengan para politisi yang ujung-ujungnya cuma untuk kampanye politik saja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar